Open top menu
16 October 2013
'Finding Neverland'

Akhir-akhir ini di Path rame banget upload gambar editing antara bocah dan seorang om. Gambar tersebut diambil film Finding Neverland. Saya ga tau siapa yang pertama kali mengeditnya, namun hampir tiap hari selalu ada hal-hal baru, presidenpun ga luput dari editan ini. Lucu dan cocok dinikmati sambil santap siang, halah...

Video di atas adalah adegan asli filmnya

Nah, kalo yang di bawah ini berbagai parodinya, yang sudah saya kumpulkan dan akan saya update kalo ada yang baru, silakan menikmati


































Read more
07 October 2013
Selamat HUT ke 257 Yogyakarta

Yogyakarta, atau yang lebih sering dipanggil Jogja ini membuat saya betah, padahal saya baru berapa bulan di Jogja entah kenapa saya memutuskan untuk tinggal di Jogja. Banyak lokasi wisata, kuliner, yang murah tentunya.

Namun, jogja sekarang ini sudah padat, banyak motor, banyak mobil, banyak gedung, banyak hotel, dan semakin panas. Infrastruktur jalan masih sempit. Sudah mulai macet dimana-mana. Dan angkutan umum yang sangat minim. Karena angkutan umum yang sedikit itu, banyak rumah yang dihuni misalnya 5 orang, maka di rumah itu ada 5 motor. Luar biasa kan?

Saya pernah mencoba naik angkutan umum, baik trans jogja maupun angkot. Nunggunya lama banget, sampe lokasi juga lama. Kalo pas naik motor, sekarang sudah harus pake masker, sarung tangan, jaket, biar ga makin item, karena suhunya udah mulai panas. Ditambah lagi polusi kendaraan lain. Dan yang paling sebel nih, bus trans jogja seolah ikut bersaing dalam menciptakan polusi. Tapi Jogja masih berhati nyaman, mungkin.

Pariwisata Jogja saat ini makin bagus, hampir tiap hari ada agenda rakyat Jogja. Pantai di daerah gunung kidul makin banyak dibuka. Saya saja kadang sampai bingung mau nonton apa karena saking banyaknya event, tapi waktu saya yang terbatas. Turis makin banyak yang datang. Kalo dulu sih nunggu pas liburan aja rame, kalo sekarang Jogja hampir tiap hari rame.

Harapan saya Yogyakarta tetap Istimewa dan berhati nyaman, tanpa ada preman, banyak penghijauan, banyak transportasi massal. Selamat ulang tahun Yogyakarta yang ke 257.


Read more
02 October 2013
Menjual Rasa Iba

Beberapa waktu lalu media rame banget tuh bahas program Ridwan Kamil yang akan mempekerjakan para pengemis dan gelandangan dan digaji bulanan. Tapi ternyata program yang bagus itu ditentang sendiri oleh pengemis yang meminta gaji 10 juta per bulan. Setelah dicari tahu, ternyata pendapatan pengemis itu bisa belasan juta per bulan. Luar biasa bukan?

Hampir di setiap perempatan jalan besar kita lihat ada pengemis. Kalo berhasil mengamati orang yang meminta-minta adalah orang yang sama, orang itu itu saja. Dan coba sesekali ngobrol sama mereka, pasti mereka orang luar kota, atau tinggal yang jauh dari lokasi meminta-minta. Dan kalo mau lebih berani lagi, coba tawarin mereka pekerjaan, kebanyakan mereka menolaknya. Saya sudah pernah coba, hehehe

Pernah saya pas iseng mengamati dan menghitung, setelah ngasih uang receh ke salah satu pengemis, dan sambil nunggu lampu hijau. Seandainya para pengemis itu mendapatkan uang 2 ribu rupiah dalam 90 detik saja (pada saat lampu merah). Coba kita hitung.

90 detik, mendapatkan Rp 2000
Dalam 1 jam anggaplah terjadi 30 kali lampu merah, sehingga penghasilan mereka dalam 1 jam adalah Rp 2000 x 30 = Rp. 60.000 dalam 1 jam.
Mereka bekerja dalam 1 hari, katakanlah sama seperti orang kerja kantoran yaitu 8 jam. Sehingga penghasilan mereka dalam 1 hari adalah Rp 60.000 x 8 = Rp 480.000 dalam 1 hari.
Kita hitung dalam 1 bulan, misalkan mereka bekerja selama 25 hari, penghasilan mereka dalam 1 bulan adalah Rp 480.000 x 25 = Rp 12juta per bulan.

Luar biasa bukan? Itu kalo mereka mendapatkan hanya Rp 2.000 (mendapatkan sedekah hanya dari 4 orang maksimal). Kalah dong para pegawai-pegawai kantor yang sudah kuliah mahal, cari ilmu sampe merantau jauh dari orang tua, yang mungkin gajinya tidak sampai 10juta perbulan. Sedangkan mereka hanya tampil dengan muka kotor dan melas, sudah bisa mendapatkan jutaan rupiah hanya dengan menodongkan tangan. Dan mereka pasti akan menolak menjadi seorang pegawai (misalnya tukang sapu) yang hanya digaji maksimal 3 juta. Itulah mental.

Saran saya (untuk pribadi saya sendiri, keluarga, dan pembaca), bersedekahlah ditempat yang benar, misalnya di yatim piatu, atau di masjid. Tidak untuk pengemis (tapi kadang saya kasihan dengan pengemis yang sudah tua renta). Atau dengan cara membeli kepada mereka-mereka yang jualan di jalan, mereka-mereka yang masih mau berusaha, tidak hanya dengan meminta, menjual rasa iba. Saya pribadi sudah berusaha melakukan hal itu dengan memulai membeli koran di perempatan jalan, meskipun koran-koran itu menumpuk tak terbaca (seperti yang pernah saya tulis tahun lalu di Membeli itu Menolong)

Kakek Penjual Koran

Kakek Penjual Gulali

Kakek Penjual Kopi
Menurut saya, membeli itu lebih mulia daripada hanya sekedar memberi. 


Read more