Open top menu
27 May 2014
Nyobain Kopi Luwak, GRATIS !!!

Pagi tadi, alhamdulillah kembali diberikan sebuah kenikmatan silaturahmi pagi. Bangun dari subuh, bapak ngajak jalan-jalan keliling rumah. Kemarin sore, bapak, ibu dan adik datang ke rumah Jogja dari kampung nan jauh di mato, mendadak tanpa pemberitahuan, sureprise katanya, tiba-tiba nongol depan pintu rumah.

Nah pas jalan-jalan tadi pagi, bapak ngajak ke sebuah sawah depan rumah yang sudah difungsikan sebagai tempat nongkrong dan tempat berteduh para seniman lukis. Bapak tanya, ini tempat punya siapa kok adem banget, saya jawab ini punya pak ali pengusaha kopi luwak. Rumahnya dekat dengan tempat berteduh tersebut dan mampirlah kita kesana hanya untuk ngobrol-ngobrol aja, karena Bapak penasaran banget setelah saya ceritain kalo 100gram bubuk kopi dijual 500ribu.

Masuklah kita ke rumah Pak Ali, dan kita diseduhkan secangkir kopi, tapi tidak secangkir utuh, hanya setengahnya aja. Pak Ali bilang 'segitu harganya 80ribu' sambil terbahak-bahak sambil menjelaskan bahwa kata-kata dia tadi adalah harga yang selama ini dia jual ke orang. Jauh lebih mahal daripada starbucks. 


Pak Ali, lalu melanjutkan ceritanya tentang harga bubuk kopi yang dia jual, kisah suksesnua berbisnis kopi yang semula dia di PHK dari Hotel Hyatt pasca bom bali, lalu mengadu nasib di Belanda selama 6 tahun, dan kembali ke Indonesia dengan bisnis kopi luwaknya. Seisi rumah dia ceritakan, dari bisnis lukisan-lukisannya, pernah juga bisnis jual tanaman, kenal sama Miranda S Goeltom, dan banyak orang terkenal di negeri ini. Dia menjelaskan proses dia dapetin eek luwak (dari kebun kopi) sampe tinggal jual, sampai sukses seperti sekarang dimana rumahnya sudah besar, punya banyak tanah di berbagai tempat yang sebentar lagi untuk buka cafe kopi luwaknya. 





Intinya, kopi luwak asli itu sangat enak, harganya mahal, khasiatnya banyak. Alhamdulillah saya sudah nyobain GRATISS pula, meskipun hanya seperempat cangkir (seperempatnya disruput Bapak).

Pelajaran yang saya dapat hari ini, silaturahmi itu menyehatkan dan gratisan.


Read more
22 May 2014
Kenapa Harus Black Campaign

Foto dari Bintang Arigia

Pertarungan capres cawapres tahun ini saya rasa paling panas diantara pertarungan pada pemilu-pemilu sebelumnya, mungkin dikarenakan kandidatnya hanya 2, Pak Jokowi dan Pak Prabowo.

Saya rasa pemilu kali ini adalah pemilu terbaik yang pernah saya tau, dimana kedua tokoh merupakan orang-orang terbaik yang saat ini ada. Dan saya sangat yakin siapapun pemenangnya, Indonesia 5 tahun kedepan akan menjadi lebih maju.

Layaknya manusia biasa, kedua kandidat capres juga pasti memiliki kekurangan, karena memang tidak ada manusia yang sempurna, dan kekurangan-kekurangan itulah yang banyak dipublikasikan ke masyarakat umum. Saat ini hampir setiap orang sudah menggenggam internet di tangan, kemudahan informasi ini yang dimanfaatkan untuk mempublikasikan hal-hal terkait kedua kandidat calon presiden kita. Begitu juga oleh sasiun tv yang mengusungnya, seperti perang media.

Tapi yang saya sangat-sangat miris adalah, kebanyakan mereka mempublikasikan hal-hal buruk. Banyak yang membuat website baru untuk menampilkan berita, ada juga kolom opini dari masyarakat yang secara otomatis terpublikasi tanpa ada filtering benar atau tidaknya berita tersebut, ada juga yang sampai memberitakan masalah agama dari masing-masing pihak yang jadinya dipolitisir. Dan hal tersebut membuat masyarakat kita sangat mudah percaya berita tersebut begitu saja, karena masih banyak yang beranggapan berita di internet itu pasti benar adanya.

Yang saya khawatirkan adalah makin banyak dari masyarakat kita yang jadi pesimis terhadap calon pemimpin kita. Tidak ada rasa kebanggaan terhadap calon pemimpin kita. Yang lebih saya takutkan lagi, saudara-saudara kita di perbatasan, yang akhirnya lebih senang memilih percaya terhadap negara tetangga yang adem ayem tanpa melihat pemimpin negaranya memiliki keburukan.

Sebenarnya semua tergantung dari kitanya masing-masing untuk nerima berita-berita yang beredar liar. Memang kebanyakan dari kita lebih banyak suka ngomongin hal-hal buruknya orang daripada hal-hal baik.

Foto dari Ippho Santosa

Misalnya saja, kita saling menceritakan hal-hal baik para capres, saya yakin kita akan jadi masyarakan yang lebih optimis tentang pemimpin kita kelak. Pepatah yang sering kita dengar sejak kecil adalah 'air susu dibalas air tuba', nah gimana kalo dibalik 'air tuba dibalas dengan air susu'? Atau 'black campaign' dibalas dengan 'white campaign'?

Saya sangat yakin, kita akan jadi bangsa yang lebih besar. Logika sederhana saya adalah 'kalo ingin mendapatkan pemimpin yang baik dan amanah, maka mulailah dari diri kita sendiri untuk jadi orang yang baik dan amanah'. Seperti kata pepatah arab 'perilakumu akan menunjukkan siapa siapa jodohmu'

Semoga kita menjadi bangsa yang lebih besar dan bermartabat. Amin
Read more