Open top menu
26 February 2015
Tekat Pensiun dari Karyawan

Bulan ini, Februari 2015, mungkin akan menjadi bulan yang sangat penting dalam kehidupan saya kelak. Karena saya memutuskan untuk benar-benar keluar dari zona nyaman saya sebagai karyawan. Saya bekerja menjadi karyawan sejak tahun 2006 setelah saya lulus dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Saya juga sempat bekerja sambil kuliah untuk meneruskan pendidikan di Universitas Mercubuana Jakarta dan lulus tahun 2008.

Selama menjadi karyawan, saya belajar banyak hal, terutama dalam hal pelayanan / service kepada pelanggan dan dalam hal branding dan marketing, yang saya yakin tidak ada satu pun universitas di Indonesia yang memberikan ilmu dan praktek seperti ini.

Alasan saya mengambil keputusan ini hanya 1, yaitu KELUARGA. Keputusan yang sudah saya rencanakan sejak bulan Nopember 2014 lalu, akhirnya terucap juga saya sampaikan ke beberapa Vice President di tempat saya bekerja, Biznet Networks, pada Februari 2015. 

Flashback pada oktober nopember 2014 kemarin, adik perempuan saya satu-satunya bercerita bahwa pada tanggal 1 April 2015 besok akan dipinang oleh seorang pria yang beruntung, yang bekerja di Jakarta. Adik perempuan saya selama ini menjaga orang tua saya. Setelah April tersebut nanti rencananya adik perempuan saya akan diboyong ke Jakarta, untuk membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah, dan keluarga yang rahmah. Amin...

Jadi, saya punya target, maksimal resign pada akhir februari 2015, karena bulan maret saya akan fokus ke acara hajatan besar ini. Jadi selama bulan nopember 2014, saya harus menyelesaikan semua pekerjaan saya, dan sedikit banyak ada rencana yang akhirnya harus dirubah. Dan alhamdulillah, akhir januari 'PR' saya sudah selesai semua. Dan saya berhenti ketika sudah selesai.

Keputusan saya ini semata hanya untuk menjaga orang tua saya, istri saya, dan ibu mertua saya, yang alhamdulillah mereka semua berada pada 1 kota yang sama, Nganjuk, kota yang menurut saya adalah kota terkecil di pulau Jawa, dimana selama ini mereka long distance relationship dengan saya. Beruntungnya saya yang insya Allah diberi kesempatan untuk berbakti dan menjaga mereka semua. Hal tersebut merupakan sebuah kekuatan baru untuk meyakinkan saya untuk tekat pensiun dari karyawan. 

Beberapa tahun lalu, saya juga sempat berniat untuk mengakhiri karir saya sebagai karyawan, karena pada saat yang bersamaan saya juga membuka usaha sampingan, dan juga membantu istri jualan online shop. Di hati kecil saya berkata 'saya telah melakukan kesalahan' Kesalahan apakah itu?

Saya seolah melakukan sebuah dosa, sebuah penghianatan, terutama kepada instansi/kantor tempat saya bekerja. Saya digaji untuk bekerja dari pukul 8.30 - 17.30 WIB, namun di jam yang sama saya melakukan bisnis sampingan. Korupsi waktu, dalam hati kecil saya, dan itu adalah sebuah dosa yang tidak saya sadari. Kenapa? Saya mencoba memposisikan diri sebagai bos yang punya perusahaan. Dan tentunya saya juga tidak mau karyawan saya pekerjaannya tidak fokus, tidak total, apalagi memanfaatkan fasilitas kantor saya untuk menjalankan bisnis yang bukan bisnis saya. Untungnya saya bukan PNS, yang notabene digaji oleh rakyat (banyak orang). Apabila melakukan hal tersebut, akan banyak orang yang dirugikan tanpa kita sadari, dan (mungkin) akan tidak berkah gaji kita. Totalitas dan loyalitas adalah salah satu ajaran militer dari Ayah saya sewaktu saya lulus SMA dulu, 'jika kamu digaji seribu, bekerjalah untuk dua ribu'. 

Banyak pihak yang menanyakan hal yang sama, yaitu 'kerja apa nanti di Nganjuk?' Dan jawaban saya sampai dengan saya menulis ini adalah 'Saya tidak tau'.  Namun hampir semua orang yang saya mintain pendapat malah sangat mendukung saya. Dukungan-dukungan dari banyak pihak itulah yang membuat saya semakin mantab untuk menjalankan misi utama saya sebagai anak, suami dan menantu.

Ada beberapa pihak yang menawarkan pekerjaan kepada saya, terutama di Jogja tempat saya berdomisili sekarang dan Jakarta tempat saya domisili sebelumnya yang sekitar 6 tahun. Namun saya ingin mengabdikan diri kepada keluarga terlebih dahulu di kota terkecil tersebut. Banyak masukan dari teman-teman baik di Jogja, Jakarta, Bandung dan sebagainya pada saat saya pamitan kepada mereka. Ada yang bilang, saya cocoknya mendirikan cafe, mendirikan Radio, ada juga yang bilang bikin usaha ISP sendiri, bikin konten, jadi penulis, jadi motivator, jadi konsultan bisnis, bla bla bla bla bla banyak banget. Tapi jawaban saya sampai saat ini yaitu 'saya masih ga tau mau ngapain nanti, lihat nanti sajalah'.

Saya dari dulu bercita-cita memiliki usaha, menjadi wirausaha yang bisa memberikan banyak waktu kepada keluarga. Memiliki usaha yang bisa diwariskan kepada anak cucu nanti. Menjadi pengusaha yang bisa mengatur waktu saya sendiri, bukan saya yang diatur dan dikejar waktu seperti selama ini.

Ada sebuah postingan dari seorang teman di path yang mengataan 'Gajimu tidak akan pernah bisa membeli nikmatnya dekat dengan keluarga'. Nah postingan itulah merupakan salah satu yang membuat semangat saya untuk pensiun dari karyawan semakin meningkat.

Ada juga teman yang mengatakan kepada saya bahwa dia menyesal terlambat resign karena bekerja jaraknya jauh dari keluarga. Dia bercerita, saya tidak tau kapan orang tua saya rambut putihnya yang pertama muncul. Pada saat dia mudik dan mengamati rambut orang tuanya, ternyata sudah banyak uban di kepala orang tuanya, banyak keriput ada di dahi orang tuanya, sudah tidak sekuat dahulu saat dia masih kuliah. Memang, waktu pasti akan selalu berjalan, tapi hal apa sajakah yang akan kita baktikan kepada keluarga khususnya orang tua selama waktu berjalan itu?

Dalam perjalanan pengambilan keputusan ini, selain banyak pendukung, banyak juga yang masih berat kalo saya ambil keputusan itu. Ada juga yang bertanya, 'apakah ga sayang, kan kerja kamu enak sekarang? Gajimu besar, sering keluar kota Jogja Klaten Solo dan Semarang. Pastinya dapat banyak insentif dari perjalanan dinas luar kota kan?'. 

Saya hanya senyum dan menjawab, 'Rejeki ga bakal ketuker, cicak yang ga bisa terbang aja selalu kenyang makan nyamuk. Intinya jangan khawatir dengan rejeki, karena rejeki sudah ada yang menjamin. Tapi khawatirlah dengan amalmu, karena tidak ada jaminan masuk surga'

Mohon doanya dari pembaca semua semoga kita semua dimudahkan dalam beramal ibadah. Oiya silakan hubungi saya pas lewat Kota Angin, Nganjuk Jawa Timur. Insya allah akan saya traktir nasi pecel. Nasi pecel di Nganjuk ini menurut saya adalah nasi pecel paling enak di dunia.

Life is an advanture. 
Read more
17 February 2015
Selamat Jalan Bensinyo

Setelah 5 tahun bersahabat, dari keliling Jakarta untuk bekerja dan menikmati malam yang penuh kilauan cahaya Ibukota, akhirnya tiba di sebuah waktu dimana kami harus berpisah. Bensinyo, panggilan akrabku pada sebuah motor Honda Scoopy kesayangan, yang saya beli sebelum banyak orang lain punya, karena saya harus inden 2 bulan untuk mendapatkannya dari pameran di Pekan Raya Jakarta tahun 2010 lalu.

Bensinyo, menemani blusukan dari keperluan pribadi sampai keperluan pekerjaan. Sampai dengan beberapa hari lalu sejak januari 2012, banyak teman-teman kantor menganggap itu hanya sebuah kendaraan operasional kantor. Karena pengorbanannya yang hampir tiap hari dipinjam teman-teman kantor untuk mengantar invoice, sales, sampai keperluan teknis, diantar oleh dia dengan senang hati, dan sukarela.

Bensinyo, juga berjasa dalam menemani hunting rumah, dari daerah Sleman sampai dengan Bantul. Dan akhirnya setiap hari kita bisa menikmati hari-hari di sebuah rumah di desa di daerah pinggiran Yogyakarta, Sewon.



Sudah seperti sahabat dan bahkan saudara. Kami foto bersama, ngobrol, menyampaikan rasa lelah, yang terasa dia bisa mendengar semua itu. Meskipun dia hanya menjawab dengan sebuah pertemanan dan menemani kesana kemari, Bensinyo akan tetap di hati. Pertemuan terakhir kami ada di salah satu candi yang sangat indah dan terkenal di dunia, Candi Prambanan. Dan semoga kamu betah di sana dengan pecinta barumu. Perpisahan memang tak bisa dihindari selama itu ada pertemuan.

Selamat jalan kawan.

Read more