Open top menu
15 March 2015
Explore Nganjuk - Gowes ke Kuncir

Hari ini merupakan gowes pertama yang serius selama tinggal di Nganjuk. 22 KM saya tempuh selama 2 jam, sudah termasuk foto2, plus sarapan. Sempet bangun kesiangan karena semalem nonton kemenangan Arsenal dan kekalahan ManCity. Hiks....

Saya dijemput temen gowes baru saya di Kota Angin ini, dzofar namanya, ndop nama bekennya, seorang teman yang udah lama ga ketemu dan baru akhir2 ini sering ketemu, seorang teman yang sangat jago bikin vector, asli Nganjuk. Kita baru jalan tepatnya pukul 06.12WIB dan langsung meluncur ke daerah yang pemandangannya bagus. 

Kuncir nama daerahnya. Ke atas lagi terdapat air terjun Sedudo. Namun saya tidak melanjutkan ke air terjun tersebut, kapan-kapan lah ya. Di Kuncir banyak sekali pohon durian, namun kapan-kapan lah ya saya beli duriannya. Saya dan Dzofar sempat mengabadikan pemandangan menarik ini.

Foto Keluarga, photo by timer.
Pemandangan Gunung Wilis
Di Kuncir, juga ada tempat bagus buat fotografi, tepatnya di Jembatan Kuncir Nganjuk. Viewnya ada gunung, langit, sungai, dan bebatuan. Cocok buat hunting photography. Bukan buat cari batu akik.

Pemandangan Kali Kuncir, photo by ndop
Setelah asik menikmati pemndangan itu, kita turun gunung, kembali ke rumah. Namun karena perut sudah protes, kita makan nasi pecel di Alun-Alun Berbek. Berbek ini dulunya adalah pusat pemerintahan kota Nganjuk, namun sudah dipindah di pusat kota Nganjuk (karena Nganjuk itu kecil, jadi Berbek dan pusat kota Nganjuk juga ga terlalu jauh sih).

Nasi Pecel, merupakan salah satu makanan khas dari Nganjuk ini. Harganya sangat murah, cukup dengan Rp 6.000 saya sudah kenyang dengan lauk pauknya dan tidak kehausan dengan teh manis hangatnya. Dan jangan ditanya lagi bagaimana rasanya. Saya sering promosi ke temen-temen dari luar kota kalo Pecel Nganjuk adalah Pecel terenak di dunia.


Sego Pecel, photo by Ndop
Kita makan lesehan disitu, sambil nonton anak-anak kecil bermain futsal di lapangan baru mereka. Lapangan futsal indoor yang baru buka sekitar 2 bulan yang lalu, tampak masih bagus dan segar. List peserta yang akan pakai lapangan itu sudah terdata sampai malam hari, dan cukup Rp 75.000 per jam, pemain sudah menjalin silaturahmi dengan teman-temannya secara sehat dan berkeringat.



Silakan yang abis gowes atau mau main futsal, ga perlu khawatir kelaparan, tepat di depannya ada warung sederhana yang jualan nasi pecel, bukan nasi padang.

Dan setelah kenyang, pulanglah kita dengan mengucap Alhamdulillah atas rejeki dan kenikmatan pagi hari ini.

Read more
10 March 2015
Bawang Goreng Nabati, Sehat Enak dan Renyah

Seperti artikel saya sebelumnya, bahwa saya akan membuat sebuah usaha makanan, yang berasal dari sumber daya alam kota Nganjuk, Alhamdulillah akhirnya saya sudah mulai mewujudkannya. Saya mencoba membuat dan memberikan tester ke teman-teman saya yang berada di luar kota Nganjuk. Dan sekali lagi alhamdulillah, tanggapan merekapun sangat positif. ENAK.

Banyak pihak yang membantu dalam proses ini, terutama ibu saya yang menunjukkan tempat-tempat yang saya butuhkan, dan istri saya yang selalu support sampai membantu membuat packagingnya. Ada teman dari rekan kerja dulu, Ade Koko panggilannya, membantu membuatkan sebuah icon / logo yang lucu dari usaha ini.

Alhamdulillah, dalam perjalanan 1 minggu ini, saya sudah mengirimkan ke beberapa kota bahkan juga sudah ke luar Jawa. Juga ada beberapa teman yang sudah berniat untuk me-reseller-kan ini.

Dan sesuai komitmen saya, untuk bisa berkontribusi terhadap kota Nganjuk ini, saya akan mendonasikan 10% dari total penjualan ini kepada yang berhak terutama untuk panti asuhan yang berada di kota Angin ini. Sehingga selain bisa menikmati enaknya Bawang Goreng nabati ini, para pembeli bisa mendapatkan pahala dan doa-doa yang baik dari orang-orang yang diberi donasi tersebut.

Bawang Goreng Nabati, saya memulai usaha ini, dengan mengolah brambang (bawang merah) yang berasal dari bibit bawang merah terbaik di Indonesia, yaitu dari kota Nganjuk. Bawang Goreng Nabati yang saya kreasikan ini tergolong sangat murah namun saya tetap menjaga kualitas. Kenapa bisa begitu? Karena saya mengambil dari sumber daya yang ada di kota saya sendiri. Digoreng menggunakan minyak nabati yang sehat, dan dengan proses pembakaran dengan kayu bakar, tidak dengan gas elpiji lho, agar membuat rasanya menjadi semakin enak. Dan jargon saya adalah SER, (sehat, enak dan renyah). Kenapa saya posisikan sehat  berada pada urutan pertama? Karena saya ingin keluarga saya dan keluarga konsumen agar selalu tetap sehat.

Untuk Anda yang ingin merasakan SER nya Bawang Goreng Nabati ini, Anda bisa memesannya via :

email : BawangGorengNabati@gmail.com
SMS / WA : 0815 8565 9855
Telp rumah saya : 0358 326484
website : www.BawangGorengNabati.com

Selamat menikmati.
Read more
06 March 2015
Perjalanan Seorang Penganggur

Setelah beberapa hari tidak memiliki pekerjaan tetap, dimana saya sudah 9 tahun terbiasa menjadi karyawan dan memutuskan untuk pensiun (seperti pada posting sebelumnya), saya merasa hidup saya lebih asyik. Alhamdulillah.

Saya bisa lebih tenang menjaga keluarga (meskipun cobaan datang di hari pertama saya officially berada di rumah. Ayah saya sakit, 1 maret 2015).
Saya bisa berfikir lebih tenang, akan membuka usaha atau bisnis apa.
Saya menjadi manusia yang bisa bersosial kapan saja (mungkin karena sebelumnya saya terlalu sibuk bekerja, saya jarang bertemu tetangga karena berangkat pagi pulang malam, sampai ada satu rekan kerja yang menyebut bahwa kondisi kita adalah termasuk orang yang hampir anti sosial).

Saya sempat membuat sebuah usaha di bidang fashion, yaitu jilbab. Karena hobi istri saya adalah di bidang itu. Namun saya pikir ulang karena bahan bakunya ada di Yogyakarta, dan saya haru mengambil kesana untuk memilih langsung jenis, kualitas dan motif bahan baku, karena saya ingin mengecek langsung kualitas barang yang akan saya jual.

Lalu, saya berfikir, saya harus menggunakan sumber daya alam yang ada di kota saya ini, Nganjuk. Seperti yang sering saya sounding ke teman-teman, bahwa kota ini menurut saya adalah kota terkecil di pulau Jawa sepertinya. Banyak teman saya yang tidak pernah dengar nama Nganjuk. Dengar saja tidak pernah, apalagi tau. Dan dari situlah saya ingin membuat nama Nganjuk mulai dikenal.

Flashback sekitar tahun 2006-2008, saya sempat membuat sebuah website untuk Nganjuk (kalo tidak salah waktu itu kotanganjuk.info). Namun saat ini domain tersebut sudah hilang, tidak saya perpanjang lagi waktu itu. Kenapa? Karena selain pengunjung sedikit, saya waktu itu berada di Jakarta, sehingga sedikit sekali update informasi tentang Nganjuk.

Kembali ke usaha / bisnis tadi. Menurut saya, Nganjuk merupakan kota dengan bibit bawang merah terbaik di Indonesia. Beberapa petani bawang merah di Nganjuk, sering juga mengirimkan bibit bawang merah ke kota-kota lain. Dan dari situ, saya berpikiran untuk mengolah bawang merah tersebut. Saya harus memajukan Nganjuk dengan bawang merahnya. Dan anjuran dari seorang pakar yang sangat saya hormati di Yogyakarta saat saya berpamitan meninggalkan Jogja, Bapak Robby Kusuma Hartawan, bahwa saya harus menggali potensi sumber daya alam kota saya.

Akhirnya saya menciptakan usaha 'Bawang Goreng Nabati'. Saya ambil bawang merah langsung dari tanah Nganjuk. Meminta tolong tetangga untuk menggoreng, dengan cara tradisional (yaitu dengan kayu bakar, dan dengan minyak nabati). Saya akan kemas menjadi sebuah bumbu makanan yang lebih sehat, enak, dan tetap renyah. Bawang Goreng Nabati ini, mudah-mudahan akan menjadi makanan khas Nganjuk.

Mudah-mudahan saya bisa memberikan kontribusi terhadap kota terkecil ini.
Read more